3 Duyung Cantik

Demi Kebahagiaan Orangtua

Ara pun berpikir mencari cara di mana dia harus menyimpan kerang tersebut.

 

Astrid menoleh ke samping lalu mengambil toples kue, "Di simpan di sini aja gays," sarannya sembari membuka tutup toplesnya.

 

Diletakannya kerang itu oleh Ratu dengan pelan takut tiba-tiba malah pecah. 

"Gue jadi penasaran deh kira-kira apa ya tugas kita selanjutnya," seru Ara memiliki rasa penasaran yang tinggi.

 

Astrid menoleh mendengar ucapan Ara sedangkan Ratu meletakan tangannya di depan dagunya seraya berpikir.

 

Begitu Ara ingin naik ke lantai dua dia berhenti ketika menemukan Mamahnya yang sedang melamun sembari memandangi foto Om Verry yang dipegangnya.

 

"Duh dosa banget sih gue udah berusaha misahin Mamah dengan Om Verry," lirih Ara merasa bersalah atas apa yang dilakukannya dia pun berlalu pergi ke kamarnya.

 

Sampai di kamar Ara langsung menelpon seseorang. "Aduh please lo usahakan datang ya, iya jam tujuh di cafe tempat biasa Lo nongkrong," serunya seperti sedang mengajak orang untuk bertemu.

Ara tersenyum, "Okey makasih ya!" ujarnya ketika orang itu kau diajak bertemu.

 

Keesokan harinya Ara pergi menepati janjinya bersama orang itu saat sampai di cafe ternyata orang itu sudah menunggunya dia mempercepat jalannya menghampirinya.

 

"Sorry ya gue telat!" seru Ara kepada seseorang itu yang ternyata adalah Teri.

 

"Ngapain sih lo ngajak gue ketemuan segala buang-buang waktu tahu nggak, Lo tahu kan kalau gue benci banget sama lo jad mending cepetan deh to the point," sahut Teri dengan ketus.

 

"Okey gue tahu Lo benci banget sama gue, biar kita bisa menyelesaikan masalah kita berdua gini ya Ter, Bokap Lo dan Nyokap gue itu saling mencintai mereka ingin hidup bersama masa gara-gara kita doang mereka gak bisa hidup bersatu, kita harus berdamai Ter demi kebahagian orang tua kita," jelas Ara mencoba menyelesaikan permasalahannya dengan Teri.

 

"Diam lo Ra! Gue tahu lo mau uang kan lo mau semua harta keluarga gue!" cibir Teri dengan sarkatis.

 

"Sorry ya Ter, gue gak mau apapun dari keluarga lo yang gue mau Nyokap gue bahagia dengan menikah bersama Bokap Lo," sahut Ara mencoba memberikan penjelasan kepada Teri. "Demi kebahagian orangtua kita Ter, kita harus berdamai," lanjutnya menatap Teri seRatu sedang memohon.

 

"Jadi lo manggil lo kesini cuma mau ngomongin itu," tukas Teri yang mulai berdiri dari duduknya lalu dia menatap Ara. "Dengar ya Ra! Jangan coba panggil gue lagi karena buat berhubungan saudara dengan lo gue gak tertarik sama sekali, dan untuk pernikahan orang tua kita lebih baik lupakan saja deh karena itu tidak akan pernah terjadi." Teri pun berlalu pergi meninggalkan Ara.

 

"Ter, Teri!" panggil Ara mencoba menghentikan langkah Teri namun gagal Ara pun mengembuskan napasnya dengan gusar. "Hmm gimana nih?" keluhnya karena tidak berhasil berdamai dengan Teri, Ara memegangi kepalanya yang terasa pusing memikirkan semua ini.

 

Begitu Ara pulang ke rumah dia melihat ada Amy di depan pintu. "Mamah mana?" tanyanya.

 

"Ada tuh di dalam lagi sholat," sahut Amy menunjukan dengan dagunya. 

 

Dengan cepat Ara memasuki rumahnya dan membuka pintu kamar Mamahnya, dia mendapati Mamahnya yang sedang berdoa. "Mamah, Mamah gak pernah nunjukin kalau Mamah sedih di depan Amy dan aku padahal aku tahu banget kalau Mamah pasti sedih banget." Air mata Ara menetes mengalir di kedua pipinya.

 

Pada saat Melly selesai berdoa dengan cepat-cepat Ara menghapus air matanya dia menghampiri Mamahnya.

 

"Mamah," sapa Ara yang duduk di samping Mamahnya sambil mencium tangan orangtuanya itu.

 

"Iyah?" sahut Melly sedikit terkejut melihat Ara yang datang ke kamarnya dia mengusap air matanya dengan mukena karena tidak mau menampakkan kesedihannya di depan anaknya.

 

"Mamah, kita makan yuk! Aku dapat voucher makan loh, makanan di restoran itu enak bangett, Mamah mau ya?" seru Ara membujuk Mamahnya dia ingin membawa Mamahnya keluar agar bisa lebih tenang pikirannya.

 

"Kamu ajak Amy saja ya sayang Mamah lagi gak ingin ke mana-mana lagi gak enak badan," sahut Melly menatap ke arah lain bukan itu alasan yang sebenarnya dia menolak ajakan Ara.

 

Mendengar penolakan dari Mamahnya wajahnya cemberut, "Mamah, masa aku ngajak Amy sih kan dia masih kecil orang temanya aja can the lunch dinner masa ngajak Amy sih wkwkwk," tukas Aranya. "Please Mamah mau ya! Sekali ini saja aku riques," bujuk Ara lagi dengan memasang wajah memelasnya.

 

Melly memandang wajah Ara lalu memalingkan kembali, "Muka kamu itu membuat Mamah tidak bisa menolaknya," lirihnya.

 

"Mau?" tanya Ara memastikan.

"Mau tapi Mamah mau siap-siap dulu ya," kata Melly dengan menganggukan kepalanya suaranya terdengar lemah.

 

"Hemm makasih Mamah." Ara memeluk Mamahnya dengan senang karena mau ikut dengannya. "Ya sudah Mamah dandan yang cantik Inda tunggu di luar ya!" ujar Ara sambil tersenyum. Dia pun beranjak pergi dari kamar Mamahnya.

 

Ketika mobil sudah berhenti di sebuah restoran Ara dan Melly pun langsung turun, namun Melly menatap restoran itu dengan tidak asing.

 

"Ini kan tempat pertama kalinya Mas Verry ngungkapin perasaan cintanya sama aku," gumam Melly dalam hatinya memandang nama restoran itu kembali mengingatkan dia akan kenangannya bersama Verry.

 

Begitu masuk Melly pun terpana melihat tempat duduk yang ada di depannya tempat yang sama dia dan Verry duduk di sana. "Kenapa harus tempat ini ya? Itu kan bangku tempat mas Verry nyatakan cintanya dulu," lirihnya dalam hati memandang bangku di depannya.

 

"Yuk Mah duduk!" ajak Ara sembari mengulum senyuman kebahagiaan.

"Yuk." Melly pun berjalan duduk di sebelah sana tempat yang sama seperti dulu dia duduk. 

 

"Mah aku ke toilet dulu ya," seru Ara sambil tersenyum manis.

"Jangan lama-lama!" pinta Melly dengan lirih.

 

"Iyah." Ara pun berlalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Mamahnya sendirian.

 

Begitu Ara pergi, Melly menatap dua orang anak muda yang sedang makan berdua seketika ingatannya akan kenangan dulu kembali terputar di pikirannya membuat dia terbawa akan memori-memori dulu yang masih tersimpan rapi dalam ingatannya. 

 

"Tuh kan mimpi terus mimpi terus," keluh Melly yang masih membayangkan jika suatu saat dia bisa menikah dengan Verry.

Tiba-tiba Verry melambaikan tangannya di depan wajah Melly. 

 

"Sudah dong ah mimpinya," gerutu Melly oada dirinya yang masih membayangkan bahwa Verry akan kembali dan kini ada di depannya.

 

"Mell, Melly!" panggil Verry sembari terus melambaikan tangannya di depan wajah Melly menyadarkan lamunan cewek tiu.

 

Akhirnya Melly segera tersadar dan kaget melihat Verry ternyata sungguhan ada di depannya kini. "Mas Verry kok bisa ada di sini?" ujarnya heran menatap Verry bingung.

 

"Kok kamu ada disini? Karena tadi aku di telepon sama Ara disuruh datang kemari terus sekarang Aranya kemana? " jelas Verry ikut bingung tidak melihat Ara.

 

"Ara, di kamar mandi katanya mau ke toilet ohh," sahut Melly dia mengerti sesuatu.

 

"Ini pasti kerjaan Ara agar kita bisa ketemu," pekik Verry menyadari sesuatu hal yang terjadi ini.

 

"Iya benar, sepertinya Ara telah mengatur semuanya." Melly terkekeh tidak habis pikir dengan rencana anaknya Verry pun ikut tertawa merasa semua ini menggelitik dirinya.

 

Akhirnya Melly menelpon Ara yang langsung diangkat oleh anak itu.

"Hay Mah," sapa Ara setelah menekan tombol hijau.

 

"Ara, kamu di mana?" To the point Melly langsung bertanya keberadaan anaknya itu.

 

Ara pun mengembuskan napasnya, "Hemm aku lagi di taksi nih mau jalan pulang," sahutnya.

 

"Ara, kamu bagaimana sih katanya kamu dapat voucher tapi kamu set up semuanya kaya gini," gerutu Melly tidak terbayangkan akan rencana Ara.

 

"Mamah, aku itu ingin melihat Mamah tersenyum bahagia lagi kalau Mamah bahagia aku dan Amy juga ikut bahagia, ya sudah ya Mah, Mamah nikmati malam ini dengan Om Verry." Ara pun langsung memutuskan sambungannya setelah mengatakan hal itu. 

 

Bahagianya orang tua adalah salah satu bagian utama bagi seorang anak, maka dari itu selain kebahagiaan anak orang tua pun berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan anak tidak bisa melarangnya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!