3 Duyung Cantik

Papa Andi disekap

Begitu mereka bertiga sudah tahu tempatnya mereka masih membutuhkan orang untuk melindunginya jika dalam bahaya akhirnya Ara punya ide untuk mengajak Doni laki-laki yang sudah tahu rahasia mereka bertiga.

 

Di sebuah restoran Ara, Ratu dan Astrid mengajak Doni untuk ketemuan dan menceritakan semuanya.

 

"Apa, ke tempat Bokapnya Andi bermain judi?" pekik Doni terkejut mendengar ucapan Ara. "Eemm ... ngapain? Aku gak mau ah," lanjutnya menolak ajakan ketiga cewek itu.

 

"Udahlah Doni, jangan banyak tanya temenin aja ya!" pekik Ratu sembari duduk di samping kiri Doni.

 

"Iya Don, anggap aja ini itu sebagai perjalanan petualangan hidup Lo, sekali-sekali kan apa salahnya," ujar Astrid yang duduk di samping kanan Doni.

 

"Iya Don, mau yah? Jadi kalau kita ada apa-apa di sana Lo yang bantuin kita, yah mau yah!" bujuk Ara kepada Doni sambil memohon agar cowok itu mau.

 

"Hemm ...," desis Doni seraya berpikir. "Kalau Ara yang minta gue gak bisa nolak," gumamnya dalam hati. "Ya sudah deh aku mau," katanya sembari tersenyum.

 

Ara mengacungkan ibu jarinya kepada Doni sembari tersenyum. Ratu dan Astrid pun ikut tersenyum begitu mendengar jawaban Doni yang mau membantunya untuk ikut ke tempat judi.

 

Ketika sampai di tempat judi mereka berjalan dengan hati-hati begitu melihat ada kedua satpam yang menjaga tempat itu mereka langsung mundur kembali.

 

Doni yang sedang melihat ke arah lain langsung ditarik oleh Astrid untuk ikut bersembunyi, mereka pun akhirnya berjongkok untuk bisa melewati pos satpam yang menjaga rumah ini yang akhirnya mereka berhasil melewatinya.

 

"Okey gays sekarang kita berpencar ya, lo Don, tetap disini ya jaga-jaga kalau kita dalam bahaya Lo langsung hubungi polisi," ujar Ara menjelaskan akan apa yang dilakukan selanjutnya. 

 

"O-ke deh, ka-lian hati-hati ya!" pekik Doni merasa sedikit gugup.

"Jangan lupa awasi ya Don takut ada apa-apa," tukas Ratu sebelum berlalu pergi.

 

"Iya Lo juga hati-hati ya Don!" Astrid pun memberi pesan sebelum pergi

Astrid, Ara dan Ratu berjalan dan berlari sampai melompat begitu ada lubang di depannya sehingga mereka sampai di pintu masuk rumah besar itu dan menguping di pintu mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di dalam sana.

 

"Apa uangnya masih kurang? Kan saya sudah kasih semuanya sampai-sampai saya jual mobil anak saya," gerutu Papahnya Andi tidak terima jika dibilang kalau dia masih punya hutang.

 

"Jodi kamu pikir hutang itu gak ada bunganya! Enak saja, hey kalian berdua sekap dia!" omel si juragan itu menyuruh ke dua anak buahnya untuk menangkap Jodi Papahnya Andi.

 

"Sampai dia bisa bayar semua hutang-hutangnya, cepat bawa dia, cepat!" pinta si juragan itu dengan penuh emosi.

"Ayo!" Ke dua anak buahnya pun membawa Jodi dengan paksa.

 

"Apa-apaan sih ini?" Jodi gak terima karena dia merasa sudah tidak punya hutang.

 

Astrid, Ratu dan Ara pun masih menguping serta mengawasi Bokapnya Andi.

 

"Gays Bokapnya Andi disekap," seru Astrid menatap kedua sahabatnya yang berada di belakangnya.

 

Ara tersenyum. "Saatnya kita beraksi!" sahutnya seraya mengulurkan tangannya seperti biasanya ketika mereka hendak melakukan sebuah misi.

 

"Okey." Astrid dan Ratu pun ikut mengulurkan tangannya. 

"Yuk kita harus cari tahu di mana," tukas Ratu bergegas jangan sampai dia kehilangan jejak.

 

"Yuk!" ajak Astrid yang langsung melompat ke kiri dan tidak sengaja dia menjatuhkan pot bunga menimbulkan suara di sana.

 

Juragan itu pun menoleh merasa ada yang seseorang disana, Astrid beserta sahabat-sahabatnya membungkam mulut mereka masing-masing agar tidak menimbulkan suara mereka semua merasa cemas.

 

Karena penasaran juragan itu pun berjalan menghampiri tempat itu membuat mereka bertiga panik dan segera berlari dari sana.

 

Juragan itu mengambil pot yang jatuh, "Siapa ya?" ujarnya.

 

Untung saja Ara, Ratu dan Astrid, berhasil kabur mereka masuk ke dalam rumah besar itu lewat jendela mereka melompatinya dengan hebat.

 

Sedangkan di bawah sana Jodi berusaha melepaskan dirinya dari genggaman kedua anak buah juragan itu. "Lepasin!" pekiknya meronta-ronta.

 

"Mau dibawa ke mana saya?" ujar Jodi Papahnya Andi dengan berusaha melepaskan dirinya.

 

"Sudah ikut saja!" paksa anak buah juragan itu dengan terus menarik-narik Jodi.

 

Ara, Ratu dan Astrid mengikutinya dari belakang begitu melihat penjaga dia langsung mundur dari bersembunyi sampai penjaga itu pergi mereka bertiga pun kembali berjalan mengikuti Papahnya Andi namun bukan hanya satu dua saja penjaga di rumah ini karena kini mereka kembali menemukan dua penjaga yang sedang berjalan membuat mereka bertiga kembali bersembunyi di bawah kolong meja makan agar tidak ketahuan.

 

"Cepetan!" hentak anak buah juragan mendorong Papahnya Andi untuk masuk ke dalam ruangan.

 

"Lepasin!" sergah Jodi memberontak namun dia kalah kuat untuk bisa melepaskan diri dari anak buah juragan itu.

 

"Udah masuk!" paksa anak buah yang bertugas menjaga ruangan itu lalu dia tidak lupa untuk menguncinya.

 

Setelah dikunci dia kembali duduk di bangku yang ada di depan ruangan itu sembari membawa koran.

 

Ketika Ratu, Ara dan Astrid hendak keluar dari kolong meja mereka kembali mendapatkan penjaga yang menghampiri meja.

 

Penjaga itu ternyata ingin membuat kopi, tiba-tiba Ratu hendak bersin, membuat Ara langsung membekap mulut sahabatnya itu agar tidak bersuara karena jika ketahuan mereka pun pasti akan ditangkap.

 

Tiba-tiba sendok yang buat mengaduk kopinya terjatuh tepat di samping meja membuat mereka bertiga deg-degan takut ketahuan namun untung saja penjaga itu tidak melihat mereka dia langsung pergi setelah membuat kopinya.

 

Ara, Ratu dan Astrid pun langsung keluar dari sana mereka kembali mengikuti penjaga tadi yang berjalan menuju ruangan di mana Jodi disekap.

 

"Bro, ini dia kopinya!" seru penjaga itu sambil mengulurkan satu kopi untuk temannya.

 

"Gimana ya caranya mengecoh penjaga itu?" tukas Astrid menatap satu persatu ke dua sahabatnya. Ratu mengangkat bahunya tidak tahu.

 

"Kalian tenang saja," sahut Ara sembari tersenyum lalu dia pun menggunakan kekuatannya untuk mengerjai para penjaganya.

 

"Lah kok airnya naik sih!" seru penjaga itu heran menatap air kopinya yang naik ke atas.

 

Penjaga yang berkumis menoleh dengan curiga, "Jangan-jangan di sini ada hantunya lagi bro," katanya dengan bergidikan.

 

Ara terkekeh mendengarnya kali dia pun mengembalikan airnya ke dalam gelas.

"Lah kok airnya turun lagi bro?" pekik penjaga itu bingung.

 

Sedangkan Ara, Ratu dan Astrid terkekeh pelan nyaris tidak bersuara. 

"Kayaknya kita salah lihat deh bro." Penjaga itu berpikir positif menghilangkan ketakutan dan halusinasinya.

"Ya udah mending kita minum saja bro!" ajak penjaga yang berkumis itu.

 

Seketika Astrid menggunakan kekuatannya kepada kedua penjaga itu membuat bibir kedua penjaganya tersangkut di gelas yang mendadak kopinya menjadi beku.

 

Kedua penjaga itu berusaha melepaskannya namun tidak bisa, Ratu terkekeh begitu pun Ara dan Astrid yang tidak kuat menahan tawa ketika melihat penjaga itu.

 

"Shuttt nanti ketahuan!" Astrid memperingatkan agar ketawa mereka tidak bersuara dia menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!